Pempek Ada’an
Beberapa waktu yang lalu, seorang kerabat kami-adik dari Opa kami- meninggal dunia di Palembang. Beberapa perwakilan keluarga besar saya berkunjung ke Palembang untuk menyatakan belasungkawa. Termasuk ibu saya.
Kesempatan berkunjung ke Palembang beliau gunakan untuk bernostalgia karena beliau lahir dan tumbuh di sana. Sayapun tak mau ketinggalan. Sebelum beliau pulang, saya memesan makanan khas Palembang untuk dikirim ke Jogja. Saya pesan pempek goreng. Saya tidak pesan yang lain-lain, karena hanya itu yang paling saya suka. Jenis lainnya mudah ditemui di mana saja, bahkan ibu saya pandai membuatnya.
Pada waktu kiriman datang, ternyata ibu saya juga menyelipkan sebungkus udang goreng jenis udang jerbung. Hmmm…peristiwa yang langka, mengingat harga udang tersebut cukup mahal. Sayapun menyimpannya untuk dimakan keesokan harinya. Pempek pesanan saya tentu saja tidak mungkin dilewatkan…
Pempek goreng yang saya ceritakan, adalah pempek yang tanpa isi (telur), hanya berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih 3cm, tetapi adonannya dicampur dengan bawang goreng. Rasanya lebih gurih dibandingkan dengan pempek lainnya. Biasanya, rasa pempek hanya dominan asin dan rasa ikan tenggiri itu saja. Dengan adanya bawang goreng, menambah citarasa berbeda pada pempek goreng.
Saya sering bilang kepada ibu saya, “Pempek ini disebut pempek ada’an karena memang tidak setiap kali ada. Kalo lagi ada, ya ada, kalo tidak, ya tidak ada”. hehehe…
Malam itu, saya dan keluarga tante saya pesta pempek. Kami semua memesan pempek adaan, yaitu pempek dengan ukurang yang lebih kecil. Setelah melahap kira-kira 8 buah pempek, perut saya kenyang sekali. B)
Dulu, sewaktu ayah saya masih sering ke Palembang karena tugas kantor, saya sering sekali dibawakan pempek, dan kami sekeluarga lebih senang dengan pempek adaan…Bentuknya yang kecil membuat kami ridak cepat kenyang, dan 1 buah bisa habis dalam 1 suapan. Hahaha
)
Udang Jerbung Goreng
Keesokan paginya, saya mencicipi udang goreng yang dibawakan ibu saya. Karena sejak malam sudah disimpan dalam kulkas, tentu saja pagi ini harus dipanaskan. Saya sempat berpikir, “Enaknya digoreng lagi atau dikukus saja ya?” Berhubung minim pengalaman, akhirnya say putuskan untuk mengukusnya saja. Sebelum dikukus, saya sempat mencicipi salah satunya yang masih dalam keadaan dingin, ternyata enak sekali. Bumbunya gurih dan pas sekali. Rasa asin dan aroma udang segar masih sangat terasa. Saya tak sabar ingin mencicipi udang berikutnya.
Setelah 10 menit dikukus, saya langsung mencicipi udang tadi, ternyata keputusan saya untuk mengukus SALAH BESAR!!!
( Rasa bumbunya menjadi hilang, dan begitupula denganrasa udang itu sendiri. Saya kecewa berat…Untung saja saya sempat mencicicpi rasa aslinya.. Akhirnya kami semua makan dengan tambahan cocolan sambal. Hiks..hiks.. padahal, kan saya jarang sekali bisa menikmati udang sebesar ini… [*nyesel mode on*].
Cheers,
-Suntea-