Rumah berbagi cerita

::: Cooking Together. part.1 ::: | May 28th 2008

Selasa, 2o Mei 2oo8

Beberapa waktu lalu saya dikenalkan sepupu saya (dPoy) pada seorang Jepang yang sudah cukup berumur. Taka Kase namanya. Mr. Kase tinggal di Yogyakarta untuk mengerjakan proyek pembangunan daerah Bantul pasca gempa. Ternyata ia seorang arsitek. Kase San (San adalah kata sapaan yang berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, dan tidak mengenal usia-red.) adalah penggemar golf sejati.

Berawal dari kunjungan ke Golf resort di daerah cangkringan, Kase San berkenalan dengan tante saya yang bekerja di sana. Dari tante itulah saya dan dPoy saya akhirnya memulai semua pengalaman yang seru. Karena Kase Sang tidak fasih berbahasa Indoesia, jadilah kami menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengannya. Kalau saya, harus ditambah dengan bahasa “Tarzan” karena kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Tidak seperti dPoy.

Ketika pertama kali saya berkenalan dengannya, suasana masih agak kaku dan pembicaraan cenderung didominasi dPoy yang telah lebih dulu mengenalnya. Dan tentu saja karena dia lebih fasih berbahasa Inggris. Aksen berbicara Kase San sangat Jepang, ditambah lagi ternyata orang Jepang tidak bisa menyebutkan huruf “L”. Bisa dibayangkan betapa kerasnya usaha kami untuk bisa mengerti ucapannya. Tapi terkadang beberapa kesalahpahaman malah membuat suasana menjadi cair karena kami bisa sama-sama menertawai kebodohan kami.

Suatu ketika, saya dan sepupu saya diundang makan malam di tempat tinggalnya. Jangan membayangkan candle light dinner, ini cuma makan malam biasa saja kok. Kase San mengatakan akan memasak sphageti ala jepang dan fruit punch sebagai dessert. Tawaran yang sangat menarik, bukan? Ketika akan berkunjung ke tempat tinggalnya, kami mengajak seorang teman laki-laki yang hobi memasak dan sangat suka berkenalan dengan orang asing.

Datanglah saya, dPoy serta Agus dan memasak bersama. Sebetulnya menu yang disajikan Kase San sudah lengkap tapi kami merasa tidak enak kalo tidak membawa buah tangan (sebuah artikel di majalah mengatakan jika diundang ke rumah orang Jepang jangan lupa membawa buah tangan karena undangan tersebut adalah penghargaan bagi yang diundang), maka kami membuatkan minuman berbahan kopi dan atau coklat. Agus sangat mahir membuat minuman karena ia seorang barista.

Sphageti yang dimasak sangat praktis. Hanya menggunakan sphageti yang dijual di pasaran, ditambah dengan daging ham, sayur sawi putih, wortel dan lobak. Bumbunya hanya menggunakan garam dan merica hitam. Pertama sekali yang kita masak adalah sayurannya, wortel, sawi putih, lobak dan ham. Diberi bumbu secukupnya dan lalu ditambahkan dengan sphageti yang sudah direbus dalam panci berbeda.

Selain sphageti, Kase San sudah menyiapkan buah dan semacam puding tahu untuk hidangan penutup. Dessert ini berisi puding, nata de coco, apel, pisang dan nanas kalengan. Terakhir salad sayuran sebagai pendamping spagethi, terdiri dari kubis yang diiris sangat tipis, tomat dan telur rebus yang dipotong melintang menjadi beberapa bagian.

Malam itu adalah malam yang menyenangkan bagi saya dan dPoy sebab malam itu para prialah yang menyiapkan masakan dan minuman bagi kami, saya dan dPoy hanya bantu icip-icip..Jarang-jarang kan punya kesempatan seperti ini. Ternyata seperti ini rasanya menjadi pria yang tinggak duduk manis menikmati masakan yang dibuatkan oleh pasangannya. ^-^

Setelah selesai memasak, kami berempat mulai mencicipi masakan dan minuman dan sedetik kemudian larut dalam perbincangan yang menyenangkan. Kami banyak bertanya mengenai negara Jepang, kebudayaannya, kebiasaannya, dan masih banyak lagi hal yang penting maupun nggak penting buat ditanyain. =D

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 9 malam, saatnya kami harus pamit. Sebelum pulang, kami membantu merapikan meja dan mencuci peralatan memasak. Kemudian secara tidak sadar kami terlibat (lagi) dalam pembicaraan yang seru tentang teknologi ciptaan orang Jepang.

FYI. Kase San membawa beberapa peralatan memasak dari Jepang. Kompor listrik, rice cooker, microwave dan seperangkat alat masak yang digunakan untuk kemping. “Alat yang dipakai untuk kemping lebih efisien dan ringkas,” alasannya. Kami bertiga tidak habis2nya mengagumi semua barang yang ia bawa dari Jepang. “Wah jadi berasa wong ndeso nih…,” batinku. Hahaha… Di dalam sebuah rak terdapat tiga container (tempat penyimpanan barang) ukuran sedang yang ditempeli pesan-pesan bertuliskan huruf Jepang. Ternyata isi container itu adalah makanan siap saji yang disiapkan isterinya dari Jepang.

Kekaguman kami tak berhenti sampai di situ saja. Kami melihat ada sejenis makanan yang berbentuk kotak dan berwarna putih susu dibungkus dalam pelastik satu-satu. Kira-kira ukurannya hanya sekitar 10X8cm saja. Ternyata itu adalah N.A.S.I sodara-sodara! Haahh?! bagaimana sebuah kotak bisa menjadi nasi? Ternyata hanya perlu dimasukkan ke dalam microwave selama beberapa saat dan tadaaa…jadilah nasi.

“Wah, bisa-bisa kita nggak pulang-pulang nih,” kata saya. Pertemuan malam itu ditutup dengan janjian masak bersama minggu depan…
Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, kami bertiga masih saja tidak bisa berhenti terkagum-kagum. Ah, dasar orang Indonesia. Ndeso.

Oyasumi* na sai…
[baca: selamat beristirahat]

 

 

 

 

 


No Comments Yet »

Say something?Comments RSS TrackBack URI